Minggu, 16 Juni 2013

PSPS Ditaklukkan Persepam 0-3


PSPS benar-benar dalam kondisi memprihatinkan. Tidak ada tanda-tanda tim berjuluk Askar Bertuah ini untuk bangkit dan menjauh dari dasar klasemen Indonesia Super League. Dilihat dari penampilannya, rasanya sulit bagi PSPS menghindari degradasi.

 Di laga terbaru, menghadapi Persepam Madura United, PSPS kembali takluk. Kalau sebelumnya April Hadi kalah dengan skor super telak 1-9 dari Persela, pada Ahad (16/6) kemarin tim asuhan Afrizal ini menyerah 0-3.

 Saat pertandingan baru berjalan dua menit, gawang PSPS yang dijaga Fance Harianto sudah kebobolan lewat Rossy Neymarhanis. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum. Tiga menit selepas restart Alain N'Kong menggandakan keunggulan Persepam menjadi 2-0 setelah tembakan kerasnya tak bisa dihalau Fance Harianto.

 Di masa injury time kapten tim, Ali Khadaffi, memastikan kemenangan tim jadi 3-0 lewat titik putih menyusul handball salah seorang pemain PSPS.***

Minggu, 09 Juni 2013

Indonesia vs Belanda

Gelandang Tim Nasional Belanda, Wesley Sneijder mencoba menendang bola meski dikawal bek Indonesia M Roby dalam pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/6).

Jumat, 07 Juni 2013

Indonesia Kalah 0-3 dari Belanda


Puluhan ribu pendukung Indonesia memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (7/6). Mereka datang untuk menyaksikan pertandingan persahabatan Indonesia melawan Belanda yang berakhir dengan kemenangan Oranje 3-0.

Tiga gol kemenangan Belanda semua terciptak di babak kedua. Gol pertama dicetak Siem de Jong menit ke-57. Siem de Jong menggandakan keunggulan negeranya menit ke-67. Satu gol lainnya diciptakan dan Arjen Robben menit ke-89.

Di babak pertama, Belanda menguasai penuh jalannya pertandingan dan terus menekan pertahanan Indonesia, khususnya lewat dua sisi sayap memanfaatkan kecepatan Ruben Schaken dan Jeremain Lens, namun masih sulit menembus pertahanan Indonesia.

Belanda memasukkan Robben dan menarik Lens pada menit ke-14. Masuknya Robben membuat serangan mereka makin menggigit meski pertahanan Indonesia masih sulit dibongkar.

Lewat serangan balik, Greg Nwokolo sempat mengancam pertahanan Belanda. Namun, sebelum sempat melepaskan tembakan, gerakannya lebih dulu ditutup oleh bek lawan.

Van Persie mendapatkan peluang emas empat menit kemudian. Memanfaatkan umpan silang dari sisi kanan, bomber Manchester United itu menyudul bola dari jarak dekat, namun masih tipis di atas mistar.

Kiper Indonesia, Kurnia Meiga tampil gemilang dengan menggagalka beberapa peluang emas Van Persie di menit-menit akhir babak pertama. Kiper asal Arema ini mampu mematahkan tembakan jarak dekat Van Persie. Tak berselang lama, dia juga menunjukkan reaksi prima ketika membendung sepakan Wesley Sneijder.

Di awal babak kedua, Belanda memasukkan empat pemain baru, termasuk gelandang Ajax Amsterdam, De Jong. Kebuntuan akhirnya pecah saat laga berusia 57 menit. Umpan silang Schaken dari sisi kanan disambut De Jong dengan sundulan.

Tak lama kemudia, De Jong menggandakan keunggulan Belanda pada menit ke-67. Berawal dari umpan Robben dari kanan, bola disundul Schaken dan De Jong yang berada di tiang jauh dengan mudah menanduk bola ke gawang.

Indonesia juga sempat mendapatkan kesempatan. Andik Vermansah melakukan aksi individu dari tengah lapangan. Dia menggiring bola di sisi kanan dan menusuk ke kotak penalti. Tapi, penyelesaiannya melayang di atas mistar.

Kemenangan Belanda akhirnya ditutup Arjen Robben pada menit ke-89. Pemain yang sukses membawa Bayern Munchen meraih tiga gelar musim ini melakukan aksi individu menawan dari tengah lapangan, mengelabui dua pemain Indonesia, dan menyelesaikan aksinya dengan tembakan keras kaki kiri.***

Susunan Pemain Kedua Tim
Indonesia: Kurnia Meiga, Ricardo Salampessy/Zulkifly Syukur 46, Victor Igbonefo, Toni Sucipto/Hendro Siswanto 72, Raphael Maitimo, M Roby, Immanuel Wanggai/Ahmad Bustomi 46, Ahmad Jufriyanto/Ruben Sanadi 80, Boaz Solossa, Greg Nwokolo/Andik Vermansah 59, Sergio van Dijk/Ian Kabes 67.

Belanda: Jasper Cillesen/Kenneth Vermeer 46, Daryl Janmaat/Dwight Tiendalli 66, Ron Vlaar, Erik Pieters/John Heitinga 46, Miquel Nelom, Jonathan De Guzman, Ruben Schaken, Jens Toornstra, Wesley Sneijder/Siem de Jong 46, Jeremain Lens/Arjen Robben 14, Robin van Persie/Ricky van Wolfswinkel 46.

Kamis, 06 Juni 2013

Megahnya Stadion Utama Riau


Stadion Utama Riau terlihat megah di malam hari. Gemerlap kembang api saat pembukaan PON Riau, 11 September 2012 menambah keindahan stadion yang terletak di kawasan Panam, Pekanbaru.


Kontingen PON Provinsi Riau



Kotingen Provinsi Riau saat mengikuti defile kontingen pada PON Riau 2012.


Atlet Wushu Jawa Timur Natalie Chriselda Tanasa saat tampil di PON Riau 2012.

Rabu, 05 Juni 2013

Mencari Pemimpin Peduli Olahraga

Mencari Pemimpin Peduli Olahraga


TAHUN ini Riau akan dipimpin Gubernur Baru. Kalau tidak ada halangan, 4 September 2013 mendatang, masyarakat Riau akan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih pemimpin Riau lima tahun ke depan. Khusus warga Indragiri Hilir, di saat bersamaan selain memilih gubernur, penduduk Negeri Seribu Parit juga akan memilih bupati baru.

Warga akan datang ke TPS dengan harapan, di tangan pemimpin baru nanti kehidupan akan lebih baik. Pembangunan infrastruktur maju pesat, ekonomi semakin berkembang, pendidikan meningkat, dan sosial budaya bertambah baik.

 Selain sektor-sektor tersebut, bidang olahraga jangan sampai terlupakan. Olahraga sempantasnya mendapatkan kesempatan masuk dalam pilar pembangunan Riau. Lewat olahraga akan menciptakan manusia sehat. Lewat olahraga harkat martabat daerah dan negera akan terangkat.

Dari berbagai efek positif yang ditimbulkan, sewajarnya pemimpin Riau memberi perhatian khusus pada sektor olahraga. Dengan fasilitas yang ada sekarang pasca Pekan Olahraga Nasional (PON) 2013 lalu, rasanya pekerjaan gubernur Riau yang terpilih nanti tidaklah seberat Gubernur Riau sekarang, HM Rusli Zainal. Venue-venue sebagai sarana latihan sudah terbangun megah. Bahkan beberapa di antaranya berstandar internasional. Tinggal pengaturan penggunaan latihan oleh pengurus cabang olahraga.

Dengan demikian, pemerintah provinsi tinggal fokus pada pembinaan prestasi. Pembinaan yang dilakukan pengurus olahraga di bawah komando Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau memang tidak berdaya tanpa dukungan dari pemerintah. Terutama soal pendanaan. Pembinaan perlu dana yang tidak sedikit untuk mencetak atlet berprestasi. Pola pembinaan lama yang hanya ''bergelora'' saat-saat akan mengikuti iven perlu ditinggalkan, tukar dengan pembinaan berkesinambungan.

Tentu kita tidak ingin mendengar prestasi Riau menurun drastis di bawah gubernur Riau yang baru nanti. Memang untuk meningkatkan prestasi, khususnya pada PON 2016 di Jawa Barat bukan hal mudah. Nama Riau yang terlanjur ''meroket'' pada PON Riau 2013 lalu dengan menempati urutan enam besar perolehan medali rasanya sulit naik lagi. Tapi paling tidak di PON mendatang Riau tidak membuat ''malu'', menjadi daerah pertama yang terjun bebas setelah menjadi tuan rumah PON. Paling tidak bisa bertahan di 10 besar.

Tugas inilah yang berat. Melihat fenomena tiga PON terakhir, selalu terjadi ''pergerakan'' atlet jelang PON berikutnya. Itu juga terjadi di Riau. Beberapa atlet penyumbang medali emas PON lalu sudah melakukan negosiasi untuk pindah ke daerah lain yang lebih menjanjikan. Bahkan sudah ada yang resmi meninggalkan Riau. Tidak jelas siapa yang memulai, sang atlet atau memang daerah gila prestasi yang mengejar-ngejar atlet. Yang jelas kedua pihak menyepakati angka-angka tertentu untuk saling mengikat kontrak.

Perlu diingat, selain olahraga amatir, pemerintah daerah juga pantas memberi perhatian pada cabang-cabang olahraga profesional. Saat ini Riau memiliki klub sepakbola yang berkompetisi di level profesional, yakni PSPS. Klub yang sudah menjadi ikon Riau selama ini sedang bersaing dengan 17 klub terbaik Indonesia lainnya di Indonesia Super League (ISL).

Ironisnya, kalau PSPS yang dulunya dikenal ''kaya raya'' sekarang malah sedang sekarat. Dulu PSPS bisa mengumpulkan sebelas pemain nasional, bahkan pemain cadangan pun ada yang ''berlabel'' nasional. Sekarang jangankan mendatangkan pemain berkelas, mempertahankan pemain putra daerah pun tidak sanggup. Beberapa pemain asli Riau memilih hijrah ke klub lain, karena PSPS memang tidak sanggup ''menghidupi'' mereka. Gaji tertunggak berbulan-bulan, padahal pemain harus menghidupi keluarganya. Dalam kondisi seperti ini pemain juga tidak bisa disalahkan. Karena sumber penghidupannya memang di sepakbola. Tidak ada pekerjaan lain selain bermain bola.

Karena liga  profesional, tentu bukan kucuran dana kas daerah lewat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang diharapkan. Lewat surat edaran menteri dalam negeri ditegaskan olahraga profesional dilarang menerima dana dari APBD. PSPS hanya memerlukan ''surat sakti'' gubernur kepada perusahaan yang ada di Riau agar bersedia menjadi sponsor. Dari ''bisik-bisik tetangga'', beberapa perusahaan masih bersedia menjadi sponsor kalau ada imbauan dari pemimpin Riau. Jadi jelas, bahwa yang diperlukan PSPS bukan dana segar dari APBD, tapi lobi ke perusahaan agar bersedia menjadi sponsor.

Kita berharap siapapun gubernur yang terpilih menggantikan HM Rusli Zainal nanti, tetap berperan memajukan olahraga di Bumi Lancang Kuning. Olahraga amatir dan profesional harus maju bersama, sehingga Riau tetap disegani.***

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More